Mengolah Limbah sisa pembakaran batubara dan kayu untuk memperkuat beton.
Tak selamanya limbah terbuang percuma. Limbah sisa pembakaran batubara misalnya, bisa diolah menjadi beton unggulan. Abu sisa pembakaran batubara ini sering disebut fly ash ( abu terbang). Sisa pembakaran batubara ini ternyata banyak mengandung material pozzolanic seperti silica. Di Banten sendiri terdapat PLTU Suralaya yang memang menggunakan batubara sebagai bahan bakarnya. Dan tentu saja menghasilkan fly ash yang cukup dalam jumlah besar. Hal yang cukup signifikan dari pendayagunaan Abu Terbang ini adalah kontribusi penelitian dalam mengurangi pencemaran lingkungan, mengingat Abu Terbang selama ini belum dipakai secara optimum dan produksi nasional Abu Terbang pada tahun 2000 diperkirakan mencapai 2.000.000 ton / tahun.
Pemanfaatan fly ash ini tentunya menjadi jawaban dari tantangan yang dihadapi Indonesia dalam peningkatan kualitas beton. Sekarang ini banyak kajian tentang pengamatan skala mikro material beton dan ditemukan hipotesis bahwa kualitas beton Indonesia memiliki kelemahan dalam hal bidang antara matriks dan batuannya yang disebabkan oleh adanya mekanisme serapan air oleh batuan, sehingga reaksi kimia di bidang antara tidak optimum. Hasil pengamatan ini mengindikasikan perlunya bahan tambahan bersifat pozzolanic untuk dapat mengisi bidang antara tersebut. Material pozzolanic dan cementitious merupakan material yang dapat bereaksi dengan air saja atau dengan kapur bebas (Ca(OH)2) plus air.
Di sisi lain juga terdapat abu sisa pembakaran kayu, yang memiliki karakteristik sama seperti fly ash. Sebagaimana kita ketahui, batubara merupakan hasil endapan kayu-kayu busuk sejak berjuta-juta tahun yang lalu. Dan ini menandakan bahwa kayu dan batubara memiliki kesamaan karakteristik, karena sebenarnya keduanya adalah kayu.
Abu kayu (sawdust ash) dan abu sekam juga diketahui mengandung bahan yang bersifat pozzolanic (Elinwa et al., 2005). Beberapa orang mengakui kekuatan abu sisa pembakaran kayu ini dapat besifat seperti semen ketika dicampurkan air. Dan hal itu yang sedang diteliti oleh beberapa mahasiswa jurusan Teknik Sipil UNTIRTA akhir-akhir ini. Di daerah banten, khususnya Serang dan Cilegon banyak terdapat industri pembuatan genteng dan batu bata yang menghasilkan limbah pembakaran berupa abu kayu.
Abu sisa pembakaran kayu yang dipakai dalam banyak industri genteng dan bata sendiri memang tidak memiliki kemampuan mengikat seperti halnya semen. Tetapi dengan kehadiran air dan ukuran partikelnya yang halus, oksida silika yang dikandung oleh abu terbang akan bereaksi secara kimia dengan kalsium hidroksida yang terbentuk dari proses hidrasi semen dan menghasilkan zat yang memiliki kemampuan mengikat. Dan apabila abu ini ditambahkan pada beton konvensional, tentunya akan menambah kuat tekan dari beton itu. Dan penelitian yang dilakukan kawan-kawan mahasiswa jurusan teknik sipil UNTIRTA adalah menguji abu sisa pembakaran kayu ini sebagai pengganti semen atau setidaknya dapat megurangi pemakaian semen dalam pembuatan beton. Dan jika memang limbah ini dapat mengurangi pemakain semen, maka tentunya akan membuat biaya pembuatan beton jauh lebih murah, dan didapat kekuatan yang sama seperti beton konvensionl pada umumnya.
Oleh : Benny Cuknolan Nainggolan
Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil UNTIRTA angkatan 2007.
2 comments so far
Leave a reply
Informasi yang bagus, tapi alangkah baiknya jika ada data perbandingan kekuatan beton, elastisitas dll yang menggunakan campuran fly ash dengan tidak menggunakan.
thanks bwd informasinya…….